Senin, 29 April 2013

Mendidik Cara Nabi


Bercermin pada Nabi, pendidikan anak pada masa-masa awal diarahkan untuk membangun keyakinan yang kokoh kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ini ditempuh dengan dua hal : 
Pertama, memberi dasar-dasar keyakinan yang mantap.
Kedua, melimpahkan kasih sayang secara tulus, bersahabat dan hangat kepada anak.

Tulusnya kasih sayang orangtua akan menjadi persemaian yang baik bagi tumbuhnya keyakinan yang kokoh. Terlebih ketika orangtua memberi pengalaman-pengalam relijius dalam suasana yang penuh kasih sayang. Inilah yang menguatkan rasa beragama (religious feeling) seseorang.

Teringatlah kita dengan suatu peristiwa. Abu Hurairah r.a menceritakan, “Kami tengah melaksanakan shalat Isya berjamaah bersama Rasulullah Saw yang berindak sebagai imam kami, ketika beliau sedang sujud, tiba-tiaba cucunya Hasan dan Husein meloncat dan menaiki punggung Nabi. Ketika Rasulullah mengangkat kepalanya, beliau menurunkan kedua cucunya dengan penuh kasih sayang. Dan ketika Nabi Saw sujud kembali, Hasan dan Husein kembali menaiki punggungnya. Pada saat usai shalat, beliau menjadikan kedua cucunya berada di samping kiri dan kanannya. Lalu aku mendatanginya dan berkata, “Ya Rasul Allah, apakah tidak lebih baik aku mengembalikan mereka kepada ibunya?” Rasullah Saw menjawab, “Tidak.” Kemudian Fathimah datang mengambil kedua anaknya ( Hasan dan Husein). Lalu Nabi Saw berkata kepada Hasan dan Husein, “Nah, sekarang pergilah kalian kembali ke ibumu.” Dan ketika itu aku melihat Hasan dan Husein berjalan dengan di gandeng oleh Fathimah hingga sampi ke pintu rumah.” (H.R. al-Hakim)

Alangkah hangat kasih sayangnya, dan alangkah kuat bekas jiwa yang ditimbulkan pada jiwa anak-anak itu karena pengalaman-pengalaman anak yang mengesankan saat shalat bersama Nabi. Mereka menemukan pengalaman yang indah dalam beragama. Mereka merasakan keindahan dan kesejukan. Bukan bentakan yang mereka terima ketika di Masjid main kejar-kejaran sehingga sedikit mengotori Masjid, Bukan juga tekanan karena anak terus dicecar pertanyaan saat tidak tidur siang, “Katanya mau jadi anak yang shalih, kok nggak mau tidur siang?”

Dari Rasulullah Saw kita juga belajar tentang bagaimana dasar-dasar keyakinan kepada Allah di tumbuhkan sejak belia. Rasulullah Saw pernah berpesan kepada Ibnu Abbas r.a. yang ketika itu masih kecil, saat pengertiannya baru mulai tumbuh. Rasulullah Saw berkata:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakaimu sedikit pun tak akan mampu kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. at-Tirmidzi).

Sabtu, 27 April 2013

Manfaat Susu Kambing ETAWA

 
 
SECARA UMUM SUSU KAMBING ETAWA SANGAT BAIK DIMINUM BAGI
  • Keluhan penyakit pernapasan seperti Asma,TBC,Bronkitis,Infeksi paru-paru 
  • Keluhan / gejala kekurangan darah (Anemia) dan wanita yang haid.
  • Membantu menguatkan tulang, gigi dan baik bagi penderita rematik serta mencegah kerapuhan tulang (Osteoporosis) 
  • Keluhan sakit perut/pencernaan tidak lancar dan Asam Lambung yang berlebihan
  • Menambah vitalitas dan daya tahan tubuh baik pria maupun wanita sehingga tetap semangat tidak mudah capek.
  • Membantu mengurangi keluhan yang diakibatkan sakit kanker.
  • Memulihkan kondisi tubuh orang yang baru sembuh dari sakit.
  • Memperbaiki kondisi jaringan lemak shg dapat menghaluskan kulit.
  • Meningkatkan daya tahan dan kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit.
  • Keluhan sakit ginjal,seperti Nephbrotic syndrom,infeksi ginjal,aram urat tinggi   
           Anda Berminat Hubungi " Qafas Barokah" 082143657612 (ridho), 085259428036 (heni)

Visi Hidup Kita


Ternyata guru-guru kita dulu itu sangat VISIONER, buktinya? mengajarkan kita sebuah doa yang sangat kita kenal dan kita hafal, dan doa itu ternyata adalah doa visi hidup kita = sukses dunia akhirat atau bahasa keren kita = Sukses Tanpa Batas.

Doa itu adalah : " ya Allah karuniakan kepada kami kebaikan (kesuksesan) di Dunia dan di Akhirat juga baik (sukses) serta hindarkan kami dari Api Neraka (keterpurukan dan kehinaan di Dunia dan Akhirat) ".

Kaya raya, punya banyak uang, bisnis dan aset itu penting tapi ada yang jauh lebih penting yaitu bagaimana diri kita selamat dan menyelamatkan orang lain dari keterpurukan dan kehinaan di Dunia dan Akhirat.

Misi Hidup Kita


Agar visi hidup untuk meraih sukses tanpa batas dengan tahapan yang sangat realistis itu tidak menjadi mimpi, maka untuk menuju visi itu kita juga harus membawa MISI yang juga realistis dan mendukung pencapaian visi hidup kita,

Apa misi hidup kita ? ialah meneruskan misi yang pernah dibawa oleh Rasulullah SAW : RAHMATAN LIL ALAMIN =Menebar KASIH SAYANG kepada Ummat seluruh Alam, yang diimplementasikan dalam bentuk SIKAP : TIDAK TEGA melihat orang lain menderita dan TIDAK RELA orang lain akan masuk Neraka.

Misi ini bukan sekedar slogan, tapi harus kita realisasikan dalam seluruh aktifitas kehidupan kita dalam keluarga, bermasyarakat dan bernegara, siapapun kita, apapun profesi kita dan dimanapun kita beraktifitas.


Ketika disekitar kita banyak orang lemah, susah cari makan dan susah cari lapangan pekerjaan, kita yang memiliki kemampuan dan akses pemberdayakan masyarakat tidak boleh tinggal diam, inilah perjuangan, inilah bagian dari proses kita berjihad.

Ketika disekitar kita banyak orang dan anak-anak masih jauh dari ajaran agama, masih terpuruk kualitas pendidikannya, maka kita yang punya kapasitas harus terpanggil dengan memberikan layanan bimbingan dan pendidikan secara langsung atau dengan membantu orang atau lembaga yang sedang serius menangani kegiatan tersebut.

Ya, Jangan banyak berharap meraih kesuksesan besar kalau kita gak pernah berupaya membuat orang lain sukses, jangan banyak berharap untuk bisa masuk Sorga kalau kita gak pernah mengajak dan membimbing orang untuk masuk Sorga. inilah proses Jihad kita di Jalan Allah

Orientasi Dakwah





Ketika kita melakukan kegiatan Dakwah, dalam bentuk apapun kita akan dihadapkan dengan banyak pilihan menggiurkan yang akan membuat kita LUPA dengan Visi dan Misi hidup yang telah kita pancangkan, apalagi ketika Dakwah kita berhasil dan disambut oleh ratusan ribu hingga jutaan ummat,

Akan ada banyak tawaran yang amat menggiurkan datang NGANTRI di depan kita, ada KETENARAN, ada KEKUASAAN, ada MEGA BISNIS, ada WANITA-WANITA yang menyerahkan diri untuk dinikahi, ada HARTA YANG MELIMPAH dan ASET SARANA yang siap diamanahkan kepada kita. (Ali Imron : 14)

Lalu Ummat yang mengikuti kita, memperhatikan kita dengan harap-harap cemas atas pilihan kita, harapan mereka hanya satu yaitu kita memilih mereka, ummat kita, bukan salah satu dari semua tawaran yang datang belakangan kepada kita itu, apalagi kalau sampai kita begitu RAKUS nya mengambil semua tawaran itu karena merasa bahwa semua itu datang adalah hadiah dan pahala yang dijanjikan Allah atas Dakwah yang kita lakukan. Sungguh naif !

Bukankah yang datang pertama kali kepada kita adalah ummat yang mengikuti kita ?

Ya, orientasi target dakwah kita adalah MANUSIA, UMMAT yang sudah sekian lama menunggu para PENCERAH yang tulus membimbing dan menyadarkan akan arti pentingnya sebuah PERJUANGAN membangun sebuah PERADABAN dibawah naungan RIDHO ALLAH bersama-sama, inilah Dakwah dan Proses JIHAD kita yang akan mengantar kita semua menuju SUKSES TANPA BATAS.

coba kita lihat Rasulullah SAW, di akhir hayatnya, yang Beliau sebut bukankah harta, kekayaan dan keluarganya tetapi, ummati.....ummati ........, umatku, umatku......, betapa sayang dan khawatirnya Beliau terhadap keselamatan kita.

Lalu ? apa untungnya kita memilih UMMAT, bukanlah kita butuh semua tawaran itu untuk membina, mencerahkan dan memberdayakan ummat ?

Selasa, 23 April 2013

Awas...Gejala Hedonisme, Umat Diimbau Waspada

Gaya hidup hedon, praktik asusila, amoral, juga anarkistik, semakin marak di masyarakat. Perilaku ini selayaknya dibendung bahkan harus diamputasi agar tidak semakin menggejala karena dapat merusak tatanan masyarakat Indonesia yang ramah dan relijius.

 Demikian disampaikan Ketua Dewan Syura Hidayatullah, Ustadz Hamim Thohari, menyikapi kian maraknya perilaku hedonis, praktik asusila, amoralitas, juga anarkisme, dan masalah kebangsaan lainnya di Indonesia.

 "Hedonisme merupakan cara pandang manusia yang menempatkan kepuasan hawa nafsu sebagai tujuan sekaligus orientasi hidup. Para penganutnya tak lagi mengukur segala sesuatu dari sisi benar atau salah, boleh atau tidak boleh, pantas atau tidak pantas," kata Ustadz Hamim Thohari kepada media ini, Ahad (21/04/2013).

Ukuran tindakannya bukan lagi benar atau salah. Yang menjadi ukurannya, lanjut Hamim, adalah apakah segala perbuatan, perilaku laku, sikap, dan tingkah lakunya menghasilkan kenikmatan atau tidak, menghasilkan kepuasan atau tidak, dan kesenangan atau tidak.

Pandangan semacam ini, terang Hamim, mulai menggejala seiring dengan pertumbuhan ekonomi kelas menengah yang sangat mencengangkan. Walaupun penduduk miskin Indonesia terbilang sangat besar, munculnya OK (orang Kaya) dan OKB (Orang Kaya Baru) telah mewarnai kehidupan baru. Merekalah yang kini hidup hura-hura, dan dunia hiburan menjadi hoby, behavior, dan kebutuhannya.

"Generasi hedonis ini telah menjadi manusia yang asing dan tercerabut dari akar budayanya. Mereka lebih menghargai budaya global dibandingkan dengan budaya lokal," tukas Hamim.

Hamim mengatakan hal itu sangat disayangkan, sebab gejala ini pun juga telah menjangkiti generasi muslim.

Keadaan yang memprihatinkan ini diperparah oleh semakin sedikitnya tokoh muslim, termasuk para aktiifis atau mantan aktifis yang seharusnya menjadi teladan juga tokoh panutan. Tetapi justru menampilkan perilaku buruk.

"Tidak sedikit anak-anak para aktifis justru tidak simpatik dan menaruh hormat pada orangtuanya," ujarnya.

Untuk itu, beliau menyarankan kepada segenap masyarakat untuk mewaspadai pengaruh buruk gejala ini. Diantaranya ia mengajak kaum Muslimin untuk terus menjaga ketahanan keluarga dengan membangun tradisi komunikasi yang baik antar orangtua, anak, dan sanak kerabat lainnya.

Ia juga menyerukan agar terus digencarkan pembinaan akhlak dan bahu membahu bersama komunitas masyarakatnya di mana dia berada untuk membendung pengaruh-pengaruh buruk praktik-praktis tersebut.

"Memang ini tidak ringan, sehingga menuntut komitmen dan kearifan bersama agar dampak buruk dari perilaku hedonis, amoral dan asusila tak semakin meluas. Mari kita cegah semaksimal mungkin," pungkas beliau.