Slide Title 1

Aenean quis facilisis massa. Cras justo odio, scelerisque nec dignissim quis, cursus a odio. Duis ut dui vel purus aliquet tristique.

Slide Title 2

Morbi quis tellus eu turpis lacinia pharetra non eget lectus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Donec.

Slide Title 3

In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Selasa, 21 Mei 2013

Tujuh Rahasia Istighfar



Istighfar adalah memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan kalimat "Astaghfirullahal'adzim" atau kalimat lain yang semakna.

Permohonan ampun ini dilakukan dengan hati yang tulus dan dibarengi dengan penyesalan atas kesalahan serta bertekad
 untuk tidak mengulanginya.

Inilah 7 rahasia istighfar :

1.
 
Mendatangkan ampunan dari Allah.


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا  يُرْسِلِ السَّمَاءِ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا  وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku katakan kepada mereka, Ber-istighfar-lah kamu kepada Tuhanmu,sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (Qs.Nuh: 10-12).

2. Mengatasi kesulitan dan terbukanya pintu rezeki.
"Barangsiapa beristighfar secara rutin, pasti Allah memberinya jalan keluar dalam kesempitan dan memberi rezeki yang tiada terhingga padanya." (HR.Abu Daud).

3.
 
Menambah kekuatan.


وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa". (QS.Hud : 52).


4. Memperoleh banyak kenikmatan.


وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat." (QS.Hud : 3).

5.
 Turunnya rahmat.

 قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dia berkata: "Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat". (QS.An naml : 46).

6.
 Sebagai kafaratul majelis.
"Barangsiapa yang duduk dalam satu majelis (perkumpulan orang) lalu di dalamnya banyak perkataan sia-sianya atau (perdebatan) kemudian sebelum ia bangkit dari majelis membaca (istighfar),

Subhaanakallahumma wa
bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa
anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.

"Maha suci Engkau ya Allah dan aku memuji-Mu dan aku bersaksi bahwa tiada Allah melainkan Engkau, aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu."
Maka ia akan diampuni kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya selama di majelis itu." (HR.Turmudzi, Nasa'i, ibnu Hibban, abu daud dan al hakim).

7.
 
Terhindar dari azab Allah.


وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS.Al-anfal : 33).

Senin, 29 April 2013

Mendidik Cara Nabi


Bercermin pada Nabi, pendidikan anak pada masa-masa awal diarahkan untuk membangun keyakinan yang kokoh kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ini ditempuh dengan dua hal : 
Pertama, memberi dasar-dasar keyakinan yang mantap.
Kedua, melimpahkan kasih sayang secara tulus, bersahabat dan hangat kepada anak.

Tulusnya kasih sayang orangtua akan menjadi persemaian yang baik bagi tumbuhnya keyakinan yang kokoh. Terlebih ketika orangtua memberi pengalaman-pengalam relijius dalam suasana yang penuh kasih sayang. Inilah yang menguatkan rasa beragama (religious feeling) seseorang.

Teringatlah kita dengan suatu peristiwa. Abu Hurairah r.a menceritakan, “Kami tengah melaksanakan shalat Isya berjamaah bersama Rasulullah Saw yang berindak sebagai imam kami, ketika beliau sedang sujud, tiba-tiaba cucunya Hasan dan Husein meloncat dan menaiki punggung Nabi. Ketika Rasulullah mengangkat kepalanya, beliau menurunkan kedua cucunya dengan penuh kasih sayang. Dan ketika Nabi Saw sujud kembali, Hasan dan Husein kembali menaiki punggungnya. Pada saat usai shalat, beliau menjadikan kedua cucunya berada di samping kiri dan kanannya. Lalu aku mendatanginya dan berkata, “Ya Rasul Allah, apakah tidak lebih baik aku mengembalikan mereka kepada ibunya?” Rasullah Saw menjawab, “Tidak.” Kemudian Fathimah datang mengambil kedua anaknya ( Hasan dan Husein). Lalu Nabi Saw berkata kepada Hasan dan Husein, “Nah, sekarang pergilah kalian kembali ke ibumu.” Dan ketika itu aku melihat Hasan dan Husein berjalan dengan di gandeng oleh Fathimah hingga sampi ke pintu rumah.” (H.R. al-Hakim)

Alangkah hangat kasih sayangnya, dan alangkah kuat bekas jiwa yang ditimbulkan pada jiwa anak-anak itu karena pengalaman-pengalaman anak yang mengesankan saat shalat bersama Nabi. Mereka menemukan pengalaman yang indah dalam beragama. Mereka merasakan keindahan dan kesejukan. Bukan bentakan yang mereka terima ketika di Masjid main kejar-kejaran sehingga sedikit mengotori Masjid, Bukan juga tekanan karena anak terus dicecar pertanyaan saat tidak tidur siang, “Katanya mau jadi anak yang shalih, kok nggak mau tidur siang?”

Dari Rasulullah Saw kita juga belajar tentang bagaimana dasar-dasar keyakinan kepada Allah di tumbuhkan sejak belia. Rasulullah Saw pernah berpesan kepada Ibnu Abbas r.a. yang ketika itu masih kecil, saat pengertiannya baru mulai tumbuh. Rasulullah Saw berkata:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakaimu sedikit pun tak akan mampu kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. at-Tirmidzi).